Kamis, 04 Agustus 2011

Kenali Gejala Ginjal Bocor

Berbicara mengenai kelainan ginjal, masyarakat lebih akrab dengan istilah batu ginjal dan gagal ginjal. Istilah ginjal bocor masih asing di telinga awam. Tentu saja kondisi ini patut diwaspadai.

Rudi, ayah satu anak, panik ketika Aldi, buah hatinya, terlihat bengkak pada bagian muka, kaki, dan tangannya. Saat itu Aldi merintih kesakitan akibat tidak bisa buang air kecil. "Setelah saya lihat, buah zakarnya ternyata juga bengkak," ucap Rudi.

Rudi lalu membawa anak semata wayangnya ke dokter umum dekat rumah. Oleh dokter, ia disarankan melakukan tes labotarium di rumah sakit. "Ketika Aldi dites, pikiran saya sudah macam-macam. Jangan-jangan dia kena penyakit berat," ungkapnya.

Hasil tes dan menyatakan Aldi mengalami ginjal bocor. "Jelas saya kaget. Apa itu ginjal bocor? Ginjal anak saya bolong atau bagaimana? Kenapa itu bisa terjadi? Dan banyak lagi pertanyaan lain di pikiran saya," tutur Rudi.

Setelah menjalani rawat inap beberapa hari, Aldi diperbolehkan pulang. "Tetapi, dia tetap harus kontrol ke dokter tiap satu minggu sampai sembuh benar," tuturnya.

Keluarnya protein
Menurut Dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD, KGH, ahli ginjal dari RS PGI Cikini, istilah ginjal bocor disebut sindrom nefrotik dalam dunia kedokteran. Artinya, kumpulan gejala yang menyangkut kerja organ ginjal. "Istilah ginjal bocor bukan berarti terdapat lubang pada ginjal, sehingga menyebabkan kebocoran," katanya.

Lalu, mengapa disebut ginjal bocor? "Ini untuk menggambarkan bocor atau keluarnya protein (albumin) dari dalam tubuh melalui air kencing (urin)," jawabnya.

Dalam keadaan normal, ginjal bekerja sebagai penyaring, sehingga protein tidak bisa keluar dari tubuh. Jika tubuh banyak mengeluarkan protein, otomatis kadar protein dalam tubuh pun menurun.

"Sifat albumin adalah menahan agar cairan tidak keluar dari pembuluh darah. Ketika tubuh kekurangan albumin, cairan mudah merembes keluar dari pembuluh darah, menyebabkan tubuh membengkak," sebut Direktur RS PGI Cikini ini.

Jika sudah demikian, tubuh akan melakukan penyesuaian karena kekurangan albumin. Salah satunya dengan memecah lemak dari seluruh tubuh, sehingga membuat kadar kolesterol naik.

"Jadi, gejala utama sindrom nefrotik atau ginjal bocor ini ada empat. Keluarnya protein melalui urin, kekurangan kadar albumin, tubuh bengkak, dan meningkatnya kadar kolesterol," katanya.

Tubuh bengkak

Keluarnya protein melalui urin ini dikarenakan sifat membran (lapisan) yang bekerja sebagai penyaring telah berubah. Yang perlu diingat, sifatnya tidak melemah, hanya berubah karena suatu sebab.

Dr. Tunggul membagi penyebab berubahnya sifat lapisan penyaring tersebut menjadi dua golongan besar. Yang pertama karena ada sesuatu di organ ginjal. Kondisi ini disebut penyakit ginjal primer. Ini biasanya disebabkan oleh infeksi.

Kedua, karena penyakit nonginjal, tetapi melibatkan organ ginjal. "Misalnya, penyakit yang berkaitan dengan kekebalan tubuh seperti lupus, diabetes, bahkan malaria pun bisa," ucapnya.

Yang perlu ditekankan, lanjutnya, sindrom nefrotik ini berbeda dengan gagal ginjal. Gagal ginjal berkaitan dengan fungsi ginjal, sedangkan sindrom nefrotik berkaitan dengan saringan ginjal. "Bisa saja seseorang mengalami sindrom nefrotik, tetapi fungsi ginjalnya masih normal. Meski demikian, gagal ginjal dapat berpengaruh terhadap penanganan sindrom nefrotik," papar Dr. Tunggul.

Untuk menentukan apakah seseorang mengalami ginjal bocor, dapat diketahui melalui tes labotarium. Hal ini diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Salah satu gejala ginjal bocor adalah membengkaknya tubuh. Meski begitu, tubuh bengkak belum tentu disebabkan oleh ginjal bocor.

Diagnosis awal paling mudah dilakukan melalui tes urin. Jika terdapat kadar protein yang tinggi dalam urin, perlu dilakukan penanganan lanjutan.

Obati penyebabnya

Penanganan masalah ginjal bocor sebenarnya cukup sederhana. "Obati saja penyebabnya. Jika disebabkan oleh masalah kekebalan tubuh, perbaiki kekebalan tubuhnya. Jika disebabkan infeksi, obati infeksinya. Dan jika disebabkan oleh penyakit gula, perbaiki kadar gulanya," ungkapnya.

Adapun tindakan penunjang yang dapat dilakukan antara lain dengan membuang kelebihan cairan dalam tubuh pasien. Bisa juga dengan memberi obat penurun kolesterol jika kadar kolesterol sudah jauh melebihi batas normal.

Masalahnya, dijelaskan Dr. Tunggul, kadang sindrom nefrotik yang disebabkan penyakit gula baru diketahui ketika sudah memasuki tahap lanjut. Jadi, andai penyakit gulanya dapat diobati, kemungkinan ginjal tetap rusak sangat besar. Hal ini juga yang memengaruhi kesembuhan pasien.

Ia juga menjelaskan, bisa terjadi kasus pasien dengan gejala yang sama, tetapi penyebabnya beda. Penyebab berbeda ini yang membuat mengapa pasien A bisa sembuh total, sedangkan pasien B hanya sembuh sebagian, atau bahkan tidak sembuh sama sekali.

Karena itu, Dr. Tunggul berpesan, lebih baik mencegah penyakit daripada mengobatinya. "Caranya bisa dengan membatasi asupan gula. Meski saat ini asupan gula tidak berpengaruh langsung ke ginjal, jika sudah kena diabetes nantinya bisa menghambat proses penyembuhan kalau terkena sindrom nefrotik," ujarnya.

Bila Dialami Ibu Hamil

Perempuan yang sedang hamil juga bisa terkena ginjal bocor. Sindrom nefrotik ini bisa terjadi karena banyak hal. Ada kasus seorang ibu hamil mengalami keguguran akibat sindrom nefrotik.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD, KGH, ahli ginjal dari RS PGI Cikini, Jakarta, menyatakan bahwa penderita sindroma nefrotik akan mengalami kekurangan kadar protein dalam tubuhnya.

"Secara logis, pada orang yang tidak hamil saja hal tersebut bisa merugikan tubuh. Apalagi pada orang hamil yang butuh nutrisi dan protein dalam jumlah banyak? Jika ibu hamil kekurangan protein, otomatis asupan nutrisi ke janin berkurang. Maka itu, risiko keguguran sangat besar," ujarnya.

Meski demikian, ia tidak sependapat jika sindrom nefrotik yang menyebabkan keguguran janin. "Sebenarnya yang memicu keguguran adalah penyakit penyebab sindrom nefrotik. Bukan sindrom nefrotiknya. Karena ginjal bocor bukan penyakit, melainkan kondisi yang disebabkan oleh berbagai penyakit atau hal lain," sebut Dr. Tunggul.

Karena itu, ia menyarankan untuk mencari penyebab pasti dari sindrom nefrotik tersebut. Sayangnya, gejala ginjal bocor ini seringkali terlewatkan pada ibu hamil. Ini disebabkan oleh bertambahnya berat badan wanita ketika mengandung. Jadi, salah satu gejala ginjal bocor, yaitu tubuh membengkak, sering tidak diperhatikan.

Sejumlah Gejala Penyerta

Selain empat gejala utama berupa bocornya protein lewat urin, kekurangan kadar protein dalam tubuh, badan bengkak, dan meningkatnya kadar kolesterol, masih ada beberapa gejala yang bisa menyertai sindrom nefrotik. Ini dikarenakan penyebabnya yang beragam dan bisa merembet ke bagian tubuh lain.

Gejala-gejala tersebut antara lain:

• Nafsu makan berkurang.
• Massa otot menyusut.
• Air kencing (urin) berbusa.
• Sesak napas akibat penimbunan cairan di rongga sekitar paru-paru.
• Lutut dan kantong zakar (pada pria) membengkak.
• Pada anak bisa terjadi penurunan tekanan darah ketika sedang berdiri. Tekanan darah penderita bisa rendah ataupun tinggi.
• Volume urin berkurang.
• Kekurangan nutrisi akibat hilangnya zat gizi, sehingga pertumbuhan bisa terhambat.
• Terjadi peradangan pada lapisan perut. Ini karena adanya infeksi di daerah perut. Infeksi ini diduga karena berkurangnya pembentukan antibodi atau hilangnya antibodi yang keluar bersama urin.
• Terjadi kelainan pembentukan darah yang bisa meningkatkan risiko pembekuan di dalam pembuluh darah.

Sementara itu, penyakit "bocor ginjal" yang diderita oleh Ali Rahmat (5) mengundang simpati banyak pihak. Ali yang kini sudah mendapat penanganan dokter di RSCM Jakarta diberitakan terus menangis kesakitan karena penyakit yang dideritanya. Sebenarnya, penyakit apakah "bocor ginjal" itu?

Istilah "bocor ginjal" sebenarnya tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Mengacu pada kelainan fisik Ali berupa perut yang membesar, kondisi ini menurut Dr dr Parlindungan Siregar, SpPD, KGH, disebut dengan sindrom nefrotik. "Istilah bocor ginjal itu tidak ada, mungkin itu diberikan oleh dokter yang mendiagnosisnya untuk memudahkan pemahaman saja," paparnya.

Sindrom nefrotik bukanlah suatu penyakit. Sindrom ini merupakan suatu kumpulan tanda dan gejala yang sering menyertai berbagai penyakit yang memengaruhi fungsi penyaringan glomerulus ginjal.

Untuk mendiagnosis penyakit ini perlu pemeriksaan darah dan urine. Jika ternyata kadar protein dalam urine tinggi, maka dokter akan menyarankan biopsi (pengambilan sampel kecil jaringan ginjal) untuk memastikan adanya penyebab khusus dan membuat rencana perawatan yang tepat. Namun, biopsi ginjal jarang diperlukan untuk anak-anak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar